Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Wednesday, May 25, 2016

Kamu Tahukan Bagaimana Rasanya Ketika Suka Sama Orang, Tapi Dia Malah Menyukai Orang Lain

kotabontang.net - Sakit yang benar-benar sakit yang tidak ada tandingannya, yang tidak dapat diobati kecuali dengan cintanya. Begitulah rasanya kalau lagi suka sama seseorang tapi dia malah menyukai orang lain. Rasanya harga diri sudah tidak penting lagi hanya demi menunjukkan rasa cintaku pada dia yang jelas-jelas aku tahu kalau di menyukai orang lain bukan menyukaiku. Namun apalah daya saat hati ini tidak bisa menolak dan membuang jauh perasaanku padamu.

Jika benar-benar sudah tidak bisa memilikimu sebenarnya aku ingin sekali mundur dari memperjuangkanmu karena aku sudah tidak kuat menahan sakit melihat orang yang aku kejar-kejar karena ingin kumiliki jiwa dan raganya bahagia dan tertawa dengan wanita lain. Sungguh aku ingin menceritakan kepedihan yang kurasakan ini pada banyak orang hanya demi mengurangi sedikit saja rasa sakit yang amat menyedikan ini.



Kamu Tahukan Bagaimana Rasanya Ketika Suka Sama Orang, Tapi Dia Malah Menyukai Orang Lain:
Menyukai Seseorang Bukanlah Perasaan yang Mudah Untuk Dikendalikan.
Di dunia ini aku paling mengerti rasanya bagaimana orang yang disuka tidak pernah melihatku tapi malah menyukai yang lainnya. Inilah kenyataan paling pahit yang harus dirasakan oleh smua orang di dunia ini ketika mencintai seseorang yang tidak bisa dimiliki. Menyukaim seseorang itu membuatku tidak mampu mengendalikan perasaaku sendiri. Aku tidak bisa membatasi kapan aku harus merindukanmu, kapan aku boleh mencintaimu dan aku tidak bisa membuat sebuah larangan pada perasaanku agar tidak menyukaimu lagi. Aku tidak bisa melindungi perasanku dari rasa sakit ketika mengetahui kalau kamu yang aku sukai malah menyukai orang lain.

Setiap Kali Aku Melihatmu, Setiap Kali Kau Tersenyum Untukku. Sedikit Demi Sedikit, Perasaanku Untukmu Tumbuh.
Hatiku sakit saat aku berusaha melupakanmu hatiku malah terus saja merindukanmu, aku menyadari aku telah salah menyukaimu yang tidak menyukaiku, tapi aku hanya ingin bertemu dengamu melihatmu walau setelah bertemu denganmu perasaanku akan semakin remuk. Perasaanku terus tumbuh saat aku melihatmu sementara kenyataan memaksaku untuk menerima bahawa kamun tidak menyukaiku dan kamu sudah menyukai orang lain. Saat itu aku merasa hatiku berperang dengan kepalaku yang solah-olah terus meneriaki untuk mundur sementara hatiku terus mendorong keinginanku untyk tetap mengharapkan kamu.

Aku Tidak Peduli Siapa yang Ada Dihatimu. Aku Menyukaimu Walau Kamu Menyukai Oarang Lain. Bahkan Aku Masih Akan Menyukaimu Walau Kamu Membenciku.
Aku sangat menyukaimu dan karena aku menyukaimu, aku terus mengikutimu. Sejujurnya, aku tak bisa mendengar dengan baik. Tidak, aku bisa mendengar, tapi aku hanya ingin mendengar apa yang ingin kudengar saja. Aku tidak ingin mendengar ucapanmu mengatakan kalau kamu tidak menyukaiku. Aku tidak ingin mendegar bahkan aku ingin menjadi tuli dari mendengarkan bahwa kamu menyukai orang lain. Hatiku sakit, makanya aku sangat tidak ingin mendengarkan hal-hal yang lebih menyakitkan lagu bagiku sekalipun itu yang harus kuhadapi.

Bahkan Jika Dia Dingin Terhadapku Dan Mengatakan Hal-hal Yang Tidak Kusukai. Itu Tetap Menyenangkan Bagiku.
Karenamu aku bahagia dan secara bersamaan pula karenamu aku juga merasa sedih. Bahagia dan sedih seolah sesutu yang wajib aku terima secara bersamaan. Bagaimana bisa kau tetapo merasa senang dan bahagia ketika kamu mengatakan hal-hal yang tidak kusukai. Semuanya menjadi indah dan terasa berbeda ketika kamu yang mengatakannya meskipun sebenarnya aku akan benci dan marah ketika orang lain mengtatakan hal itu padaku. Aku bahagia saat kamu mengatakan tidak merindukan, aku bahagia karena aku mendengarkan suaramu padahal sebenarnya itu terasa sangat sakit. Aku bahagia jika pesanku hanya kamu baca tanpa kamu balas padahal sebenarnya itu sangat menyedihkan namun hatiku terus mengatakan setidaknya dia menggapku dan melihatku ada.

Aku Menyukaimu. Tapi Aku Tidak Tau Cara Melepaskanmu, Melarikan Diri Dari Mencinta Yang Tidak Ada Akhirnya.
Puluhan, ratusan, hingga ribuan kali aku menyesali telah jatuh cinta padamu. Mengap bertemu denganmu? Mengapa harus dirimu? Kau membuatku membenci dan menyalahkan diri sendiri. Kau mimpi buruk yang tidak ingin aku ingat lagi. Karena cintamu adalah sesuatu yang hanya mendatangkan sakit tanpa akhir. Cintamu hanya sesuatu yang membuatku seolah kecanduan dari merasakan sakit hati dan rendah diri. Cinta mu memaksaku untuk menjadi tidak punya harga diri, hingga membuatku menyessal karena jatuh cinta padamu.

Aku Selalu Berharap Pada Akhirnya, Ia Akan Luluh Pada Perhatianku yang Tulus Dan Tak Kenal Lelah.
Seolah tidak ada habisanya saja sesakit apapun yang aku rasakan, sepedih apapun kenyataan yang harus aku terima aku tidak bisa menghentikan keinginanku untuk berhenti dari mengharapkan dirimu. Aku tidak bisa menghentikan keinginanku untuk terus berharap jika pada akhirnya ketulusan cintaku ini mampu membuka mata hatimu, mampu membuatmu luluh padaku dan aku sangat berharap ketulusan cintaku ini mampu menjadi ‘jampi-jampi’ yang dapat membuatmu menerimaku.
Duapah.com
Sunday, February 28, 2016

Tidak Cinta, Bukan Berarti Harus Cerai, Sebuah Renungan..

kotabontang.net - LELAKI itu benar-benar sudah mengambil keputusan. Ia akan menceraikan istrinya, sebab tidak ada cinta sama sekali untuk perempuan yang dinikahinya. Pernikahannya terjadi karena musibah, awalnya dirinya berencana menikah dengan kekasihnya. Namun, satu hari menjelang pernikahan tiba-tiba kekasihnya menghilang.
Tidak Cinta, Bukan Berarti Harus Cerai
Saat didatangi ke rumah, orang tuanya justru berkata, “Seharusnya anakku meninggalkanmu sejak dahulu, karena sejak awal kami tidak merestui hubungan kalian. Kami menyetujui kalian menikah karena terpaksa, tetapi akhirnya anakku sadar hidup denganmu yang hanya berpenghasilan kecil hanya akan membuatnya susah.”
Betapa terkejutnya lelaki itu saat mendengar paparan orang tua kekasihnya. Memang sebagai guru honorer gajinya sangat jauh dari kata cukup, namun dirinya yakin bisa bertanggungjawab memberi nafkah pada keluarga dengan cara mencari tambahan penghasilan dari pekerjaan lain.
Untuk menutupi rasa malu sekaligus menjaga martabat keluarga, lelaki itu dinikahkan dengan perempuan lain. Pernikahan terlaksana, namun seminggu setelah pernikahan kekasihnya muncul kembali di hadapannya.
“Maaf, Mas. Aku tidak datang dalam acara pernikahan kita, aku terhasut ucapan orang tuaku yang mengatakan hidupku akan susah apabila nekad menikah denganmu. Masa depan rumah tangga suram karena pendapatanmu belum seberapa, tetapi seminggu ini diriku merenung dan aku tak bisa melupakanmu. Itu sudah lebih dari cukup menjadi alasan mengapa diriku mesti berada di sisimu.”
“Tetapi diriku sudah menikah, dirimu juga tahu itu. Lagipula bagaimana dengan orang tuamu, meski dirimu mencintaiku namun bila mereka tidak merestui akan sama saja.”
“Ceraikan istrimu, Mas. Masalah orang tuaku, biarlah aku yang mengurusnya. Bila perlu akan kuancam kalau tidak disetujui menikah denganmu, aku akan kabur dari rumah.”
Perbincangan dengan kekasihnya itulah yang membuatnya semakin bertekad menceraikan istrinya. Lagipula untuk apa mempertahankan rumah tangga apabila tidak dilandasi dengan cinta. Lelaki itu sengaja mengunjungi ibu dan ayahnya tanpa membawa istri, dengan tujuan membicarakan niatnya menceraikan perempuan yang baru seminggu dinikahinya.
“Apa? Dirimu mau menceraikan istrimu? Atas dasar apa mau menceraikannya?”
“Aku tidak mencintainya, Bu. Bukankah salah satu alasan diperbolehkan menceraikan istri karena tidak ada kecocokan antara suami-istri, sehingga tidak ada cinta di antara keduanya? Aku merasa tidak cocok dengan istriku, karena tidak mencintainya.”
“Ibu rasa itu bukan alasan utama, katakan saja apa ada alasan lain.”
“Kekasihku datang menemuiku, dia bersedia menikah denganku karena itu dirinya memintaku menceraikan istriku.”
“Begitu rupanya, lalu apa lagi yang dikatakannya?”
“Dia terhasut ucapan orang tuanya yang mengatakan hidupnya akan susah apabila nekad menikah denganku, karena itu dia kabur menjelang pernikahan. Tetapi ternyata dia tidak bisa melupakanku, kemudian kembali. Bahkan dia menggaransi akan kabur dari rumah apabila niatnya menikah denganku dihalangi kedua orang tuanya, itu karena rasa cinta begitu besar kepadaku.”
Ibunya menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian terdengar beristighfar berkali-kali.
“Putraku, memang benar salah satu alasan diperbolehkan menceraikan istri karena tidak ada kecocokan antara suami-istri sehingga tidak ada cinta di antara ke duanya. Masalahnya apakah istrimu tidak mencintaimu? Ketika sudah menikah ada kesalingan, jangan-jangan hanya dirimu yang tidak memiliki cinta kepada istrimu.”
“Bagaimana mungkin istriku mencintaiku, sedangkan kami menikah karena dijodohkan.”
“Istrimu mencintaimu, maka dirinya mau menikah denganmu. Selama ini ibu tahu kalau dia menyukaimu, sebab orang tuanya pernah mendengar saat sholat malam sebelum menjadi istrimu, dia berdoa agar bisa menerima kenyataan kalau dirimu akan menikah meski dia selalu menyebutmu setiap malam dalam doanya semoga berjodoh denganmu. Ketahuilah, bisa jadi dirimu tidak berjodoh dengan orang yang dirimu cintai, sebab orang itu tidak pernah berdoa dengan tekun agar berjodoh denganmu.”
Lelaki itu terdiam. Benar juga, bagaimana kalau ternyata perempuan yang dinikahinya mencintai dirinya? Tetapi bukankah cinta sepihak saja tidak cukup kuat untuk sebuah ikatan rumah tangga?
“Putraku, penting untuk dirimu ketahui. Syarat menceraikan istri bukan semata cinta atau tak cinta. Syarat yang mesti dipenuhi antara lain, istri berakhlak jelek, istri tidak taat lagi kepada suaminya dalam hal-hal yang baik, istri tidak mampu melakukan kewajibannya, istri melakukan kemaksiatan atau dosa besar yang menyebabkan rumah tangga mengalami keadaan yang jelek. Apakah syarat-syarat itu terpenuhi?”
Lelaki itu tak mampu menjawab pertanyaan ibunya. Barulah saat ibunya mengulang pertanyaan agar menjawab, lelaki itu pun menjawab.
“Tidak terpenuhi, Bu. Istriku berakhlak baik, meski aku tidak belum mau menemaninya tidur dia tetap memuliakanku sebagai suami. Saat diriku marah karena dengan berbagai alasan, dirinya tetap sabar.”
“Dengan demikian, gugurlah alasanmu yang berniat menceraikannya. Hal lain yang mesti dirimu pahami, kalau disuruh memilih antara ayah atau ibu dirimu pilih siapa?”
“Tentu saja pilih keduanya, Bu. Ibu dan ayah itu orang tuaku, tidak dapat terpisahkan satu sama lain.”
“Kalau begitu mengapa dirimu mau memilih seseorang yang telah meninggalkanmu daripada seseorang yang sudah Allah takdirkan menyatu denganmu dalam ikatan pernikahan?”
Tak ada kata terucap. Justru saat mendengar apa yang disampaikan ibunya, lelaki itu tertunduk.

“Kalau orang tua tidak mengakui anaknya kira-kira bagaimana perasaan sang anak? Pasti menyakitkan, tadi dirimu katakan apabila orang tua kekasihmu tetap tidak merestui hubungan kalian, dia akan kabur dari rumah. Itu sama saja tidak mengakui kedua orang tuanya sendiri. Apakah perempuan seperti itu baik untuk dijadikan istri?”
Lelaki itu kian menundukkan kepala. Tak berani sedikitpun menatap mata ibunya karena khawatir akan ketahuan apabila saat ini air matanya mulai menetes.
“Di luar sana, banyak laki-laki dan perempuan yang dibutakan cinta. Rela tidak mengakui orang tuanya hanya demi nafsu mempersatukan birahi atas nama cinta, padahal orang tua tidak merestui pasti disebabkan alasan yang logis. Orang tua kekasihmu tidak merestui hubungan kalian sebab melihat anak perempuannya sudah terbiasa hidup mewah, jadi tak tega kalau seandainya menikah denganmu yang hanya berprofesi sebagai guru honorer dengan penghasilan pas-pasan. Khawatir hidup anaknya menderita. Apakah pemikiran orang tuanya salah?”
Dengan menguatkan hati, lelaki itu mencoba menegakkan kepala dan melihat ke arah ibunya.
“Jadi, apa yang harus kulakukan, Bu? Aku tidak mencintai istriku, bagaimana mungkin membangun rumah tangga tanpa cinta?”
“Jangan katakan tidak, tetapi katakan belum. Jujur saja, dari awal ibu dan ayah melarangmu pacaran. Khawatir saat tidak berjodoh dirimu akan menjadi pesakitan cinta yang sukar disembuhkan. Kekhawatiran kami terbukti, kini belajarlah menerima kenyataan bahwa apa yang terbaik menurutmu belum tentu yang terbaik menurut kehendak Allah. Belajarlah mencintai istrimu lebih tekun, sebab sebelum menikah denganmu istrimu belajar dengan tekun mencintaimu lewat doa-doanya agar berjodoh denganmu, Allah mengabulkan doanya. Kini saatnya dirimu berdoa dan bekerja untuk mencintai istrimu hanya karena Allah.” [AS/sebarkanlah.org].

Arief Siddiq Razaan, Kafe Pustaka-03 Desember 2015
Monday, February 22, 2016

Sebarkanlah!! Semoga Mengisnpirasi Orang Tua Muslim Indonesia - BALITA AJAIB INI TELAH HAFAL SELURUH BACAAN AL-QURAN, SUBHANALLAH

kotabontang.net - Sungguh luar biasa dua anak ini. Usianya masih di bawah lima tahun (balita), namun mampu menjadi penghafal Alquran (hafiz). Kemampuannya melafalkan ayat suci tanpa membacanya terekam melalui video.

Pada video terpisah yang diunggah pada situs jejaring video YouTube, seorang bernama Abdul Rahman bin Mohamed Farah (3 tahun) dari Algeria dan seorang balita perempuan yang belum diketahui namanya.



Video Abdul Rahman diunggah, 25 Agustus 2011 dan telah ditonton 548.174 kali, sedangkan video hafiz perempuan ditonton 5.496.067 kali. Data ini dikutip, Rabu (19/12/2014) pukul 16.30 WIB. Pada kolom komentar video, mengalir pujian dari pentonton. Mereka memuji kebesaran Allah.

Abdul Rahman tercatat dalam Guinness World Records sebagai hafiz paling muda di dunia.
Pada video tersebut, Abdul Rahman terlihat melantunkan hafalannya di masjid di hadapan pria dewasa hingga paruh baya. Sementara, si balita perempuan terlihat duduk di sofa didampingi seorang wanita dan diwawancarai. (Mon)

sumber : tribunnews

Viralkan!! Orang Lain Acuh, Tentara Gagah ini Malah Traktir Anak Jalanan

kotabontang.net - Sebuah tindakan sederhana memang kadang memberikan efek reaksi yang sangat besar. Salah satunya adalah dengan memberi.

Seseorang tak jarang merasakan kebahagiaan yang amat dalam dengan memberi. Tak hanya itu, dengan kebaikan sederhana tersebut tak jarang pula menginspirasi banyak orang yang melihatnya.

Salah satunya adalah kebaikan yang dilakukan oleh seorang tentara dari Angkatan Udara Filipina. Pria berseragam tentara ini mentraktir dua anak gelandangan yang ditemuinya di jalan. Pria gagah ini membelikan es krim dan makanan yang diinginkan kedua bocah yang terlihat lusuh itu.



Menurut data yang dilansir brilio.net dari ViralReal, Jumat (24/7), Filipina saat ini memang sedang menghadapi peningkatan jumlah anak jalanan. Jangankan untuk membeli tas baru atau pergi ke sekolah, untuk makan saja anak-anak ini kesusahan. Sebagian dari anak-anak ini, tak memiliki tempat tinggal setelah diminta pergi oleh orang tua mereka karena tak mampu lagi mengurus.

Masyarakat Filipina sudah terbiasa dengan situasi demikian, sehingga jarang orang yang peduli dan menolong anak-anak yang hidup di jalanan itu. "Pemerintah saja tidak melakukan apa-apa. Jadi kenapa kami harus repot-repot mengurusnya," demikianlah apa yang ada di benak warga Filipina tentang keberadaan anak jalanan.

Sebuah tindakan sederhana memang kadang memberikan efek reaksi yang sangat besar. Salah satunya adalah dengan memberi.

Seseorang tak jarang merasakan kebahagiaan yang amat dalam dengan memberi. Tak hanya itu, dengan kebaikan sederhana tersebut tak jarang pula menginspirasi banyak orang yang melihatnya.

Salah satunya adalah kebaikan yang dilakukan oleh seorang tentara dari Angkatan Udara Filipina. Pria berseragam tentara ini mentraktir dua anak gelandangan yang ditemuinya di jalan. Pria gagah ini membelikan es krim dan makanan yang diinginkan kedua bocah yang terlihat lusuh itu.

Menurut data yang dilansir brilio.net dari ViralReal, Jumat (24/7), Filipina saat ini memang sedang menghadapi peningkatan jumlah anak jalanan. Jangankan untuk membeli tas baru atau pergi ke sekolah, untuk makan saja anak-anak ini kesusahan. Sebagian dari anak-anak ini, tak memiliki tempat tinggal setelah diminta pergi oleh orang tua mereka karena tak mampu lagi mengurus.

Masyarakat Filipina sudah terbiasa dengan situasi demikian, sehingga jarang orang yang peduli dan menolong anak-anak yang hidup di jalanan itu. "Pemerintah saja tidak melakukan apa-apa. Jadi kenapa kami harus repot-repot mengurusnya," demikianlah apa yang ada di benak warga Filipina tentang keberadaan anak jalanan.

Tapi apa yang dilakukan oleh seorang tentara ini adalah hal yang sebaliknya. Ia melihat dua anak jalanan ini di daerah bernama Gaisano Kota Lapu-Lapu, Filipina. Meskipun bukan orang kaya, tentara ini memberikan traktiran kepada dua bocah yang ditemui itu.

Tentara ini membawa mereka berdua ke sebuah restoran makan dan memesankan yang mereka minta, meski ia hanya memesan segelas jus jeruk untuk dirinya sendiri. Kebaikan tentara ini kemudian diabadikan oleh seseorang yang juga makan di restoran yang sama, setelah sebelumnya memerhatikan apa yang dilakukan tentara baik ini pada anak jalanan yang ditemuinya.

Kebaikan tentara gagah ini bikin terharu dan tentunya layak ditiru. [brilio]

Bro Gaes, Penting Nich!! Nikahilah Wanita Seperti Ini, Pernikahanmu Pasti Bahagia!

kotabontang.net -Wanita dipilih karena empat hal. Fisik, harta, keturunan, dan agama. Meski seorang laki-laki dibolehkan untuk memilih karena empat hal atau salah satu di antaranya, ada kaidah amat penting yang menjadi penentu bahagia atau tidaknya sebuah pernikahan.

“Orang yang mengutamakan kriteria agama,” tutur Drs Muhammad Thalib dalam Menuju Pernikahan Islami, “dijamin oleh Allah Ta’ala akan mendapatkan kebahagiaan dalam berkeluarga.”



Bagi seorang laki-laki, kualitas agama calon istrinya sangatlah penting. Tidak boleh dipandang sambil lalu. Meski kelak menjadi pemimpin rumah tangga, kesuksesannya sangatlah tergantung dengan kualitas ketaatan seorang istri yang dasarnya adalah bagusnya kualitas agama.

Seorang istri yang bagus pemahaman agamanya akan lebih mudah diatur dan diajak melakukan kebaikan di banding wanita yang sama sekali tidak tahu, acuh, bahkan menentang ajaran-ajaran dalam agamanya.

Seorang laki-laki hendaknya memperhatikan kualitas agama istrinya dari hal-hal berikut.

Kualitas ketaatannya. Apakah dia terbukti sebagai seorang Muslimah yang taat menjalankan perintah Allah Ta’ala dan Rasulullah? Tanda utamanya, ia bergegas, rajin, dan terdepan dalam melakukan ibadah ritual, selayak menjalankan shalat lima waktu, puasa wajib, berbakti kepada orang tua, dan kewajiban-kewajiban lainnya.

Sebagai sebuah kesatuan tak terpisahkan, seorang Muslimah yang taat akan selalu menjauhkan diri dari perbuatan syirik, maksiat, dan dosa-dosa, dari yang terkecil hingga yang paling besar. Tiada kompromi dalam soal dosa. Dijauhi seluruhnya. Ditolak. Tidak mendekat. Dia senantiasa menjaga diri dengan meminta perlindungan kepada Allah Ta’ala.

Agar tidak tertipu, seorang laki-laki hendaknya melakukan penialain dengan cermat. Selain mengamati secara sembunyi-sembunyi dengan tetap menjaga nilai syar’i, cara lain yang bisa ditempuh adalah bertanya tentang hal ini kepada wali, keluarga dekat, tetangga, sahabat waktu sekolah, dan teman-teman di tempat kerjanya.

“Laki-laki yang menghendaki membangun rumah tangga yang bahagia dan sejahtera di dunia dan akhirat hendaklah memilih perempuan yang taat beragama untuk dijadikan istri,” pungkas Drs Muhammad Thalib menjelaskan kriteria pertama seorang istri idaman, ialah sosok yang beragama Islam.

Penting dicatat bagi seorang calon suami, bahwa kualitas istri tak jauh beda dengan kualitas dirinya. Jika menghendaki seorang istri shalihah, ia terlebih dahulu harus bersungguh-sungguh menjadi seorang laki-laki yang shalih.

Wallahu a’lam. [Keluargacinta]

Menghadiri Rapat Orang Tua Murid Dengan Pakaian Kotor, Ucapan Bapak Ini Membuat Semua Orang Malu!

kotabontang.net - Tepat pukul 7 malam, orang tua murid mulai masuk ke dalam ruangan kelas di sekolah. Beberapa orang tua terlihat penuh sopan santun, ada juga orang tua yang kelihatannya sombong, ada juga yang terlihat sangat berhati-hati. Pada saat guru mulai menutup pintu dan mulai berbicara, pintu yang baru saja ditutup terbuka kembali perlahan-lahan, seorang pria paruh baya, badannya kotor penuh dengan debu muncul dibalik pintu. Dengan wajah yang tersenyum dia meminta maaf karena datang terlambat.



Kehadirannya menarik perhatian orang tua murid lainnya. Dia mengenakan pakaian kerja yang sudah luntur serta penuh bercak cat. Celananya pekat dengan debu, dia memakai sepatu boot yang penuh dengan lumpur. Dia kelihatan seperti baru pulang dari kerja bangunan.

Guru itu berkata: "Permisi, Bapak siapa?" Pria paruh baya itu berkata: "Saya ayahnya Ayyub" Guru itu terlihat kaget, tapi segera meminta pria itu menandatangani buku kehadiran. Ayah dari Ayyub dengan muka yang tertunduk berkata: "Maaf, Pak Guru, saya tidak dapat membaca dan menulis..." Para orang tua murid lainnya terdengar ada yang mulai menertawakan, sang guru tersebut pun berkata: "Tidak apa-apa, saya yang akan membantu Bapak tanda tangan."

Kemudian guru tersebut mulai menjelaskan, tujuan diadakannya rapat orang tua murid adalah supaya setiap orang tua dapat saling berbagi pengalaman tentang bagaimana cara mendidik anak serta kesannya selama mendidik anak. Ada 2-3 orang tua murid membagikan pengalaman mereka dalam mendidik anak-anak mereka, yaitu bagaimana mereka mendidik anak mereka dengan ketat, supaya mereka mau menulis pr mereka, membantu anak-anak mereka mencarikan guru les tambahan, dll.

Pada saat guru tersebut meminta ayah dari Ayyub untuk berbicara, ia memperkenalkan, "Ayyub adalah seorang murid teladan dengan nilai terbagus di kelas. Pelajaran matematika selalu beroleh nilai terbaik, ia tidak pernah terlambat, selalu bersikap baik terhadap teman-temannya. Mari sama-sama kita dengarkan bagaimana ayah dari Ayyub mendidik anaknya."

Tidak sedikit orang tua murid lainnya tampak kaget. Bapak yang tidak terpelajar namun mempunyai anak yang hebat. Ayah Ayyub dengan agak sedikit canggung mulai berjalan ke depan. Ia sedikit tertunduk, tidak begitu berani menatap mata para orang tua murid lainnya. Ini perkataannya:

Saya hanya suka melihat anak saya mengerjakan PR nya. Setiap kali sepulang kerja, tidak peduli seberapa capeknya saya, saya pasti akan duduk di samping dia untuk melihatnya mengerjakan PR yang ada. Suatu hari, anak saya bertanya kepada saya, "Ayah, setiap hari melihat saya mengerjakan PR, apa Ayah mengerti apa yang saya kerjakan?" Saya berkata "Ayah tidak mengerti." Kemudian anak saya bertanya: "Ayah, jika Ayah tidak mengerti bagaimana Ayah tahu saya mengerjakannya dengan benar atau tidak?"

Saya berkata: "Jika kamu mengerjakannya dengan cepat, maka Ayah tahu bahwa soal ini sangat mudah; jika kamu menyalakan kipas angin, mengambil minum, maka Ayah tahu bahwa soal tersebut susah."

Saya seorang buruh bangunan. Suatu kali saya mengangkat wajah saya dan melihat bangunan tinggi yang saya bangun, saya bertanya kepada anak saya, apakah kamu mau tinggal di rumah yang tinggi, yang besar, rumah yang indah? Mengendarai mobil bagus? Anak saya menganggukkan kepalanya. Saya berkata: "Oleh karena itu kamu harus belajar dengan baik."

Saya tidak sekolah, tidak dapat membaca dan menulis, saya tidak tahu bagaimana cara-cara hebat mendidik anak. Saya hanya suka bercakap-cakap dengan anak saya. Anak saya senang jongkok di samping saya pada saat saya bekerja. Saya tidak memberikan uang jajan kepada anak, ia tidak bermain internet, juga tidak belanja macam-macam. Dia sering di rumah membantu saya mencuci pakaian.

Setelah selesai berbicara, dia membungkuk untuk memberikan hormat kepada sang guru! Orang tua murid lainnya terpaku tak bergeming, hati mereka sangat tersentuh oleh perkataannya. Ayah ini meskipun tidak mempunyai pendidikan yang tinggi dan tidak dalam keadaan ekonomi yang cukup, tetapi ia sangat hormat kepada guru. Dia juga senang menemani anaknya. Ini adalah caranya bagaimana dia berhasil dalam mendidik anak! [Cerpen]

Rasulullah Pernah Menyebut Bangsa Indonesia

kotabontang.net -Tatkala salah satu guru Prof. DR. al-Muhaddits as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki dan Al-'Allamah al-'Arif billah Syaikh Utsman bersama rombongan ulama lainnya pergi berziarah ke Makam Rasulullah saw., tiba-tiba beliau diberikan kasyaf (tersingkapnya hijab) oleh Allah swt. dapat berjumpa dengan Rasulullah saw.

Di belakang Nabi Muhammad saw. sangat banyak orang yang berkerumunan. Ketika ditanya oleh guru as-Sayyid Muhammad al-Maliki itu: “Ya Rasulullah, siapakah orang-orang itu?”

Rasulullah saw. pun menjawab: “Mereka adalah umatku yang sangat aku cintai.”
Prof. DR. al-Muhaddits as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki

Dan diantara sekumpulan orang yang banyak itu ada sebagian kelompok yang sangat banyak jumlahnya. Lalu guru as-Sayyid Muhammad al-Maliki bertanya lagi: “Ya Rasulullah, siapakah mereka yang berkelompok sangat banyak itu?”

Rasulullah saw. kemudian menjawab: “Mereka adalah bangsa Indonesia yang sangat banyak mencintaiku dan aku mencintai mereka.”

Akhirnya, guru as-Sayyid Muhammad al-Maliki itu menangis terharu dan terkejut. Lalu beliau keluar dan bertanya kepada jama’ah: “Mana orang Indonesia? Aku sangat cinta kepada Indonesia.” (Dikutip dari ceramah Syaikh KH. Muhyiddin Abdul Qadir al-Manafi).

Bukti kecintaan as-Sayyid Muhammad al-Maliki kepada orang Indonesia adalah dengan membangunkan Pesantren khusus untuk orang Indonesia di Mekkah. Dan beliau sangat senang dan bahagia apabila ada orang/ulama Indonesia yang menyempatkan bersilaturrahim di rumahnya. Bahkan beliau sering memberikan buah tangan (hadiah) kepada orang/ulama Indonesia yang bersilaturrahim tersebut. [pintarin]

Yang Barusan Nikah Wajib Baca : " Suamiku Engkau Adalah Surgaku dan Nerakaku "

kotabontang.net - Duhai para istri yang mendamba Surga…
Engkau telah memiliki jalan yang mudah untuk meraihnya
Jika saja engkau muliakan suamimu dan memenuhi hak-haknya atasmu
Tapi engkau pun bisa memilih jalan lain
Ketika engkau lalaikan dirimu dari ridhanya
Maka bersiaplah menuai sengsara di Neraka

Risalah ini adalah motivasi untukku dan untukmu wahai saudariku, baik yang telah menikah, yang belum menikah, dan yang akan menikah. Suami adalah Surga dan Neraka bagi para istri. Melalui perantara suamilah para istri akan mendapatkan ‘hadiah’nya di akhirat kelak. Apakah keridhaan ataukah murka dari Rabbul ‘Alamin yang akan kita dapat…? Semua itu bermula dari bagaimana sikap kita terhadap suami. Maka perhatikanlah dengan seksama.




Suami adalah pemimpin dalam rumah tangga, suami ibarat raja dalam sebuah negara. Istri adalah wakil suami yang harus setia, istri adalah pelaksana semua hal yang diamanatkan padanya. Maka jagalah hal ini dengan sebaik-baiknya.

Wahai saudariku, ketahuilah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengisyaratkan dalam sabdanya:

“Sesungguhnya, jika sekiranya aku memerintahkan seseorang untuk sujud kepada selain Allah, maka aku akan memerintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya. Maka demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya! Seorang istri tidaklah menunaikan hak Rabb-nya sehingga dia menunaikan hak suaminya.”[1]

Aduhai, alangkah besarnya hak suami terhadap istri-istrinya. Perhatikanlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang amat agung di atas. Jika manusia dibolehkan sujud kepada manusia, maka yang paling berhak untuk itu adalah suami…

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun hingga bersumpah: Maka demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya! Seorang istri tidaklah menunaikan hak Rabb-nya sehingga dia menunaikan hak suaminya.

Tidaklah dikatakan seorang istri itu memenuhi hak Rabb-nya hingga dia memenuhi hak suaminya. Allahu

Banyak istri dan wanita yang telah lupa dengan pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada bibinya Hushain bin Mihshan ketika beliau bertanya tentang sikapnya terhadap suaminya:

“Perhatikanlah olehmu, dimanakah engkau dari (memenuhi hak)nya, karena sesungguhnya dia (suamimu itu) adalah surgamu dan nerakamu.”[2]

Maka, suami itu adalah jalan para istri untuk meraih kenikmatan Surga atau menjadi sebab bagi para istri tenggelam dalam api Neraka. Manakah yang hendak engkau pilih wahai para istri…? Surgakah atau Nerakakah…?

Tahukah engkau, bahwa sedikit sekali kaum wanita yang akan menjadi penghuni Surga? Demikian khabar yang disampaikan oleh al-Mudzakir Muhammad bin ‘Abdullah ‘alaihish sholatu wa sallam dalam sabdanya:

“Sesungguhnya penghuni Surga yang paling sedikit adalah perempuan.”[3]

Bagaimanakah terjadi demikian?

Ketahuilah saudariku, para wanita yang menolak kenikmatan Surga adalah mereka yang durhaka kepada suaminya, kufur nikmat atas pemberian suaminya, dan lisan mereka banyak digunakan untuk melaknat.[4] Wal’iyyadzubillah…

Tidakkah terbetik dalam hatimu untuk menjadi kesayangan bagi suamimu? Untuk menjadi bidadari baginya di dunia dan akhirat? Dan dengannya engkau akan memperoleh ridha dari Rabb-mu yang amat berlimpah…

Habibullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menggambarkan sosok istri yang baik bagi seorang suami[5]. Dan bagaimanakah seorang suami akan menolak istri yang seperti ini, sungguh suatu perkara yang mustahil…

Dari Abu Hurairah, dia berkata: “Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Siapakah istri yang baik itu?’

Maka beliau menjawab: ‘Yang menyenangkan apabila dia dipandang dan menta’atinya apabila dia memerintahkannya, dan dia tidak pernah menyalahi suaminya pada dirinya dan hartanya yang suaminya tidak menyukainya.’”[6]

Tahukah engkau siapa istri yang baik itu…?

Yang telah disabdakan oleh Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau ditanya…

Istri yang baik adalah…

-Yang apabila suami melihat dan memandang kepadanya…
-Pasti akan menyenangkan suaminya…
-Pasti akan menyejukkan pandangan mata suaminya…
-Dan dirinya selalu berhias…
-Wajahnya selalu berseri dan menenangkan hati…
-Penampilan dan pakaiannya selalu menarik…

Dan pada semuanya…

Demi menunaikan hak suaminya…
Sehingga sang suami akan mengatakan, istriku sangatlah menarik…

Akan tetapi, bagaimana dengan istri yang tidak baik…

Istri yang tidak baik itu adalah…

-Istri yang tidak menyenangkan apabila dipandang…
-Wajahnya selalu cemberut dan merengut ketika bertemu dengan suaminya…
-Dirinya selalu menyusahkan hati dan fikiran suaminya…
-Pada penampilan dan pakaiannya selalu kusut dan tidak menarik…
-Sikap dan tutur katanya keras dan kasar…
-Sehingga ketika suami berada bersamanya, maka dia seolah berada dalam Neraka…

Suamiku, engkau adalah Surgaku dan Nerakaku. Maka apa lagi yang akan kuutamakan sebagai seorang istri selain memenuhi hak-hakmu atas diriku. Akan kujadikan engkau senantiasa ridha padaku. Akan kujaga amanat yang telah engkau embankan di pundakku. Dan tidaklah aku akan membantah perintahmu selain perintah untuk bermaksiat kepada Allah…

***

Demikianlah risalah sederhana ini tersusun dengan mengharap wajah-Nya. Semoga shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, dan para pengikutnya hingga yaumil akhir kelak.

Semoga Allah senantiasa melapangkan qulub-qulub yang sempit oleh syahwat dan syubhat kepada jalan kebenaran yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya ridwanullahu ‘alaihim ajma’in berada di atasnya.

Wallahu Ta’ala a’lam bish showab.

Banyak Pria Menangis Setelah Membaca Ini, Kisah Mengharukan Perjuangan Seorang Istri

kotabontang.net - Ia mulai dari tidak ada apa-apanya bekerja sebagai kuli bangunan hingga akhirnya berhasil menjadi kepala bagian. Kemudian ia membentuk tim pekerja tersendiri yang akhirnya berkembang menjadi sebuah perusahaan konstruksi.



Sang istri yang mendampingi pria ini sejak kuli bangunan, semakin hari tampak semakin tua. Tubuh yang dulunya langsing, sekarang tampak kasar berotot, kulit pun tidak sehalus dulu. Dibandingkan dengan beribu wanita cantik di luar sana, ia tampak terlalu sederhana dan pendiam. Kehadirannya senantiasa mengingatkannya akan masa lalu yang sukar.

Sang suami berpikir, inilah saatnya pernikahan ini berakhir. Ia menabungkan uang sebesar 1 miliar ke dalam bank istrinya, membeli juga baginya sebuah rumah di daerah kota. Ia merasa, ia bukanlah suami yang tak berperasaan. Sekiranya ia tidak mempersiapkan bekal bagi hari tua istrinya, hatinya pun tidak tenang.

Akhirnya, ia pun mengajukan gugatan cerai kepada istrinya. Sang istri duduk berhadapan dengannya. Tanpa berbicara sepatah katapun ia mendengarkan alasan sang suami mengajukan perceraian. Tatapannya terlihat tetap teduh dan tenang.

Ketika hari sang istri pergi dari rumah pun tiba, sang suami membantunya memindahkan barang- barang menuju rumah baru yang dibelikan oleh suaminya. Demikian pernikahan yang telah dibangun selama hampir 20 tahun lebih itu pun berakhir begitu saja.

Sepanjang pagi itu, hati sang suami sungguh tidak tenang. Menjelang siang, ia pun terburu-buru kembali ke rumah tersebut. Namun ia mendapati rumah tersebut kosong, sang istri telah pergi. Di atas meja tergeletak kunci rumah, buku tabungan berisi 1 miliar rupiah dan sepucuk surat yang ditulis oleh istrinya.

Saya pamit, pulang ke rumah orang tua saya. Semua selimut telah dicuci bersih, dijemur di bawah matahari, kusimpan di dalam kamar belakang, lemari sebelah kiri. Jangan lupa memakainya ketika cuaca mulai dingin.
Sepatu kulitmu telah kurawat semua, nanti bila akhirnya mulai ada yang rusak, bawa ke toko sepatu di sudut jalan untuk diperbaiki. Kemejamu kugantung pada lemari baju sebelah atas, kaos kaki, ikat pinggang kutaruh di dalam laci kecil di sebelah bawah.
Setelah aku pergi, jangan lupa meminum obat dengan teratur. Lambungmu sering bermasalah. Aku telah menitip teman membelikan obat cukup banyak untuk persediaanmu selama setengah tahun.
Oh ya, kamu sering sekali keluar rumah tanpa membawa kunci, jadi aku mencetak 1 set kunci serta kutitipkan pada security di lantai bawah. Semisalnya kamu lupa lagi membawa kunci, ambil saja padanya.
Ingat tutup pintu dan jendela sebelum pagi-pagi berangkat kerja, kalau tidak, air hujan dapat masuk merusak lantai rumah. Aku juga membuatkan pangsit. Kutaruh di dapur. Sepulang dari kantor, kamu dapat memasaknya sendiri.

Tulisannya jelek, sukar dibaca. Namun setiap huruf bagaikan selongsong peluru berisikan cinta tulus, yang ditembakkan menghujam jauh ke dalaman ulu hatinya.

Ia memandang setiap pangsit yang terbungkus rapi. Ia teringat 20 tahun yang lalu ketika ia masih menjadi seorang kuli bangunan, teringat suara istrinya memotong sayur, mempersiapkan pangsit di dapur, teringat betapa suara itu bagikan melodi yang indah dan betapa bahagianya ia pada saat itu.

Ia pun tiba-tiba teringat janji yang diucapkannya saat itu: "Saya harus memberi kebahagiaan bagi istri saya..." Detik itu juga ia berlari secepat kilat segera menyalakan mobilnya.

Setengah jam kemudian, dengan bersimbah keringat, akhirnya ia menemukan istrinya di dalam kereta. Dengan nada marah ia berkata, "Kamu mau ke mana? Sepagian aku letih di kantor, pulang ke rumah sesuap nasi pun tak dapat kutelan. Begitu caranya kamu jadi istri? Keterlaluan! Cepat ikut aku pulang!"

Mata sang istri berkaca-kaca, dengan taat ia pun berdiri mengikuti sang suami dari belakang. Mereka pun pulang. Perlahan, air mata sang istri berubah menjadi senyum bahagia.

Ia tidak mengetahui bahwa sang suami yang berjalan di depannya telah menangis sedemikian rupa. Dalam perjalanan sang suami berlari dari rumah ke stasiun kereta, ia begitu takut. Ia takut tidak berhasil menemukan istrinya, ia sangat takut kehilangan dia.

Ia menyesali dirinya mengapa dirinya begitu bodoh hingga hendak mengusir wanita yang begitu ia cintai. Kehidupan pernikahan selama 20 tahun ini ternyata telah mengikat erat-erat mereka berdua menjadi satu.

Kekayaan yang sebenarnya bukanlah terletak pada angka di dalam buku tabungan, melainkan terletak pada senyuman bahagia pada wajah anda.

" Makan Malam Terakhir Bersama Ibu " Sebuah Renungan , Jutaan Orang Menangis Membaca Kisah Ini

kotabontang.net - Sahabat Kotabontang.net Sayangilah Ibumu , Sebagaimana Mereka Menyayangimu Sejak Kecil , Kisah Ini Semoga Bisa Menjadi Pelajaran Untuk Anda . Ada banyak catatan yang mesti diperhatikan oleh seorang anak selepas menikah. Baik ia sebagai anak perempuan maupun laki-laki. Khusus bagi laki-laki, ada penekanan dalam hal ini. Sebab, hingga kapan pun, surga bagi seorang anak letaknya ada pada kaki ibunda.

Selain itu, selepas menikah, bakti seorang anak sama sekali tak otomatis terputus dengan alasan telah memiliki keluarga sendiri. Dalam hal ini, penting kiranya bagi kedua pasangan dan keluarga terdekat untuk saling mengingatkan.




Jangan sampai kisah ini terjadi antara diri dan ibu kita. Sebuah kisah haru nan memilukan ini, patut dijadikan cermin bagi kehidupan kita; sebagai anak maupun orangtua.

Sebutlah namanya Fulan. Sudah 21 tahun ia menikah dengan seorang wanita bernama Fulanah. Tepat di usia ke 21 pernikahannya, sang istri bertanya menawarkan, “Mas, tak berkenankah kau makan malam bersama seorang wanita?” Sang suami yang memang tak memiliki saudara dan anak wanita itu bertanya kebingungan, “Maksudmu?”
Lantas dijelaskanlah oleh sang istri, “Esok, keluarlah untuk makan malam bersama ibu.” Aduhai, rupanya Fulan ini amat sibuk mengurusi keluarga, pekerjaan dan kehidupannya. Lanjut Fulanah, “Sudah 21 tahun –sejak menikah denganku- kau tak pernah makan malam bersama ibu,” katanya menerangkan, “Teleponlah beliau, ajaklah makan malam. Beliau pasti amat mendambakan kebersamaan denganmu.”

Segeralah Fulan menelepon sang ibu. Dalam perbincangan udara itu, disampaikanlah maksudnya. Sang ibu yang telah lama menjanda dan hidup bersama keluarga lainnya itu amat sumringah mendengar ajakan itu. Meskipun, ada rasa tak percaya akan ajakan mengagetkan dari anak yang amat disayanginya. Pasalnya, masa 21 tahun bukanlah bilangan waktu yang sebentar.

Hari yang direncanakan pun menyapa. Fulan menuju rumah ibunya. Sesampainya di depan rumah sang ibu, sosok janda yang sudah lama mendambakan kebersamaan bersama anaknya itu tengah menunggu, tepat di rahang pintu. Tak ingin diketahui oleh saudaranya yang lain, sang ibu langsung menyambut, menghampiri dan bergegas masuk ke dalam mobil.

Di dalam mobil, terjadilah perbincangan kecil antara keduanya. Tentang rumah makan dan menu terbaik yang hendak mereka tuju dan santap malam ini. Tak lama, tibalah mereka di tempat makan terbaik di kota itu.
Lamat-lamat, sang anak memerhatikan pakaian yang dikenakan oleh ibunya. Agak sempit. Rupanya, itu adalah pakaian terakhir yang diberikan oleh almarhum suaminya. Duhai, sang anak ini sampai lupa membelikan pakaian untuk ibunya.

Maka datanglah pelayan pembawa menu. Disodorkanlah daftar makanan yang hendak dipesan. Ternyata, sang ibu sudah tak kuasa membaca. Dengan senyum, Fulan menawarkan, “Aku bacakan menunya. Tunjuk saja menu apa yang Ibu kehendaki.”

Lantas dipesanlah aneka jenis makanan yang dihidangkan, tak lama kemdian.
Bersebab bahagianya yang memuncak lantaran diajak makan malam oleh anak kesayangannya, selera makan sang ibu tenggelam seketika. Sama sekali tak berminat untuk mencicipi, apalagi melahapnya. Sosok yang sudah hampir terbenam masa hidupnya itu hanya memerhaikan anaknya, dengan cinta dan rindu yang kian bertambah.

Di tengah menikmati menu makan malamnya, Fulan berkata, “Bu, ini yang pertama sejak 21 tahun yang lalu. Maafkan anakmu ini. Esok kita akan makan malam lagi untuk yang kedua.”
Mendengar kalimat itu, mata sang ibu berbinar sumringah. Binar bahagia itu semakin bertambah hingga kedua insan itu pulang. Sang anak mengantarkan ibunya ke kediamannya, sementara ia kembali ke rumahnya.

Waktu-waktu selepas itu, adalah waktu menuggu nan membahagiakan bagi sang ibu. Ditungguilah ponselnya guna berharap panggilan dari anaknya. Sementara itu, di belahan tempat lain, sang anak tetap sibuk dengan dunia, pekerjaan dan kehidupannya. Ia, benar-benar lupa dengan janji yang diungkapkannya sendiri.

Lantaran usia yang menua, sang ibu pun sakit. Makin hari, bertambah parah sakitnya. Alasan sibuk pun membuat Fulan tak kunjung membesuk ibunya. Hingga akhirnya, wanita berhati lembut itu wafat sebelum sang anak sempat menjenguknya.

Proses pemakaman pun berlangsung dengan lancar. Ada haru nan pilu yang menelisik ke dalam hati Fulan. Perasaan bersalah selalu datang belakangan. Andai perasaan itu bisa datang lebih dulu, mungkin saja ia akan bisa menebus dosanya.

Lepas pulang dari pemakaman, ponselnya bergetar. Diangkatklah oleh si Fulan. Tertera dalam layar, pemanggil adalah ruma makan tempat ia dan ibunya makan malam tempo hari. “Halo, Pak Fulan,” ucap suara dari seberang. Lepas disahut, penelepon melanjutkan, “Maaf, Pak. Dalam catatan kasir kami, bapak telah memesan tempat makan malam untuk dua orang. Tagihannya suda dibayar oleh Ibu anda.”
.
Entahlah apa yang dirasa olehnya. Tanpa penutup, dimatikanlah ponselnya sembari bergegas menuju rumah makan tersebut. Sesampainya di sana, sang kasir menyerahkan sebuah pesan tertulis tangan. Dari sang ibu. Tertera di dalamnya, “Nak, aku mengerti. Malam ini adalah makan malam terakhir kita. Meski kau sampaikan akan ada yang kedua, aku tak terlalu yakin. Maka, makanlah bersama istrimu. Aku sudah membayarnya untumu dengan uang Ibu.”

“Ibu, Ibu, Ibu,” demkianlah pesan Rasulullah Saw. Sosok mulia itu harus didahulukan dari sosok bapak. Sosok ibu adalah mutiara kebaikan nan tak tergantikan. Selalu ada mutiara yang bisa digali darinya. Pasti ada hikmah dari wanita yang mungkin saja, sudah kita sia-siakan sejak lama.
Rabbi, ampuni dosa kami, dosa bapak dan ibu kami. Sayangilah keduanya, sebagaimana mereka menyayangi kami di masa belia. [Pirman]

*Disadur bebas dari buku 1001 Alasan Kamu Harus Sayangi Ibumu, Monde Ariezta.

Silahkan Share Sahabat , Semoga Menjadi Kebaikan Untuk anda ..