Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts
Wednesday, May 25, 2016

Cepatlah Menikah, Maka Hidup Kamu Akan Berkah dan Indah

Cepatlah Menikah, Maka Hidup Kamu Akan Berkah dan Indah
kotabontang.net - Islam adalah agama yang universal. Agama yang mencakup semua sisi kehidupan. Tidak ada suatu masalahpun dalam kehidupan ini yang tidak dijelaskan. Dan tidak ada satupun masalah yang tidak disentuh nilai Islam, walau masalah tersebut nampak kecil dan sepele (ringan). Itulah Islam, agama yang memberi rahmat bagi sekalian alam.

Menikah merupakan jalan yang paling berkah dan paling indah dalam upaya merealisasikan dan menjaga kehormatan. Dengan menikah seseorang bisa terjaga dirinya dari apa yang diharamkan Allah SWT.

Oleh sebab itulah Rasulullah mendorong untuk mempercepat nikah, mempermudah jalan untuknya dan memberantas kendala-kendalanya. Nikah merupakan jalan fitrah yang bisa menuntaskan gejolak biologis dalam diri manusia.

Nikah mengangkat cita-cita luhur yang kemudian dari persilangan syar’i tersebut sepasang suami istri dapat menghasilkan keturunan. Melalui perannya bumi ini menjadi semakin semarak. Pernikahan merupakan persoalan penting dan besar. ‘Aqad nikah (pernikahan) adalah sebagai suatu perjanjian yang kokoh dan suci.

“Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami istri dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat”.
(An-Nisaa’ (4) : 21).

Agama Islam adalah agama fitrah dan manusia diciptakan Allah Ta’ala cocok dengan fitrah ini. Karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh manusia menghadapkan diri ke agama fithrah agar tidak terjadi penyelewengan dan penyimpangan. Dengan demikian manusia dapat berjalan di atas fitrahnya tersebut.

”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah) ; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus ; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS. Ar-Ruum (30) :30).

Islam telah menjadikan ikatan pernikahan yang sah berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai satu-satunya sarana untuk memenuhi tuntutan naluri manusia yang sangat asasi serta sarana untuk membina keluarga yang Islami. Penghargaan Islam terhadap ikatan pernikahan besar sekali, sampai-sampai ikatan itu ditetapkan sebanding dengan separuh agama.

Anas bin Malik Ra berkata: “Telah bersabda Rasulullah SAW : Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi”.

Anas bin Malik RA berkata: “Rasulullah SAW memerintahkan kami untuk nikah dan melarang kami membujang dengan larangan yang keras”. Dan beliau bersabda: “Artinya : Nikahilah perempuan yang banyak anak dan penyayang. Karena aku akan berbanggga dengan banyaknya umatku dihadapan para Nabi kelak di hari kiamat”. (Hadits Riwayat Ahmad dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban).

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (An-Nur (24): 32).

Rasulullah SAW menguatkan janji Allah itu dengan sabdanya: “Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka, dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya”. (Hadits Riwayat Ahmad).

Marilah kita berupaya untuk merealisasikan pernikahan secara Islam dan membina rumah tangga yang Islami. Di samping itu wajib bagi kita meninggalkan aturan, tatacara, upacara dan adat istiadat yang bertentangan dengan Islam. Hanya Islam satu-satunya ajaran yang benar dan diridhoi Allah SWT.

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan yang menyejukkan hati kami, dan jadikanlah kami Imam bagi orang-orang yang bertaqwa”. (QS. Al-Furqan ; 25:74 ).

Siapapun Anda dan apapun yang Anda kerjakan, maka hasilnya terserah Allah SWT, karena Dialah Dzat yang Maha Tahu apa yang terbaik untuk Anda, walau Anda menggap sesuatu itu baik, maka belum tentu dihadapan Allah. Artinya penyerahan diri secara total kepada Allah SWT, adalah keniscayaan. Serahkan hasilnya kepada Allah, pasti Anda mendapat yang terbaik.
Sumber: mediasi.me

Tolong Share... JILBAB yang HARAM di Pakai Seperti ini 'Contohnya'

kotabontang.net - Jilbab seharusnya tidak hanya menjadi gaya-gayaan, namun juga menjadi ajang gaya hidup modern yang sederhana, romantis dan positif(tutup aurat). Namun bagaimana jika jilbabnya seperti ini?

JILBAB yang HARAM di Pakai seperti ini

Jilbab telah menjadi trend masyarakat Indonesia khususnya kaum hawa. Bahkan mereka ada yang rela mengeluarkan isi dompet untuk memperdalam ilmu mempercantik diri dengan jilbab tersebut. Tetapi pertanyaannya, apakah mereka telah mengetahui aturan-aturan berjilbab yang sesungguhnya?Ada beberapa gaya berjilbab yang justru menambah dosa bagi pemakai jilbab tersebut yakni kau hawa.



1. Jilbab ketat

jilbab jilboobDiwajibkannya memakai jilbab bagi Muslimah dengan tujuan agar menutupi kulit serta lekuk tubuh yang menggoda para kaum adam. Namun yang terjadi saat ini, muslimah seakan-akan mengacuhkan ketentuan berjilbab tersebut. Mereka pada dasarnya memang berjilbab, namun tidak sesuai dengan aturannya karena lekuk tubuh mereka masih sangat nampak. Bahkan sebagian dari muslimah tersebut berjilbab hanya untuk menonjolkan lekuk tubuh mereka. Hal seperti inilah yang menambah dosa mereka.

2. Jilbab yang mirip pakaian lelaki

jilboobs1Celana jeans dan kaos lengan panjang pada dasarnya pakaian yang biasa dipakai oleh laki-laki. Namun, muslimah saat ini seakan tidak tahu dengan hal tersebut. Walaupun mereka memakai kerudung, namun kerudung yang mereka pakai tidak menutupi lekuk tubuh seperti dada
dan punggungnya, terlebih lagi dipadu dengan pakaian kaos lengan panjang serta celana jeans, akhirnya tubuh mereka yang harusnya tertutup dan tidak nampak lekukannya, malah semakin menonjol kemana-mana.Jilbab dengan bahan tipis bahkan transparan

Memakai jilbab dengan bahan tipis alias transparan memang terlihat modis. Dan bahan ini sangat cocok bagi para muslimah yang berada di daerah yang panas. Namun, jilbab dengan bahan inilah yang justru membuat dosa dan tidak diperbolehkan oleh agama. Rosulullah SAW menyebut hal seperti ini dengan sebutan “berpakaian tapi tellaanjangg”.

3. Jilbab yang menyerupai wanita selain muslimah

Jaman memang sudah berkembang, begitu juga dengan model-model berbusana. Tetapi tidak berlaku bagi aturan agama, terutama tentang berjilbab. Para muslimah hendaknya benar-benar mengetahui bagaimana tata cara berjilbab yang benar. Agar yang dilakukan oleh mereka tidak sia-sia bahkan hanya menghasilkan dosa bukan pahala. Sebagai contoh, berkerudung namun pa…hanya masih jelas terlihat, berjilbab namun da..da tetap dipamerkan. Dengan demikian, berjilbab justru membuat mereka semakin berdosa saja.

Jadi, sebaiknya nih sahabat betul-betul harus tahu bagaimana dan seperti apa berjilbab dan menjadi muslimah yang baik tersebut.

===============
Mau tambahan pahala? SHARE Info ini.

HEBAT.site

Alhamdulillah...Mahkamah Agung Jerman Membolehkan Hijab Di Sekolah-Sekolah 'Share ya'

kotabontang.net - MashaAllah Air mata Kebahagiaan seorang gadis Muslim di Jerman setelah Mahkamah agung di Karlsruhe membolehkan memakai hijab di sekolah-sekolah.
Karlsruhe adalah sebuah kota di Jerman. Karlsruhe terletak di Jerman Selatan, tepatnya negara bagian Baden-Württemberg yang berbatasan langsung dengan negara Perancis dan Swiss. 
Karlsruhe merupakan kota kedudukan Mahkamah Agung dan Pengadilan Tertinggi Jerman dan oleh sebab itu, Karlsruhe dikenal juga sebagai Kota Hukum di Jerman. Jarak Karlsruhe dari Stuttgart, ibu kota provinsi Baden-Württemberg, berkisar 80 km dan dari Mannheim sekitar 60 km.
Sudah sejak dahulu, Karlsruhe terkenal sebagai daerah inovasi di Jerman. Banyak orang terkenal dan penemu besar tinggal di sini
Mahkamah Agung Karlsruhe Memutuskan Membolehkan Wanita Muslim Memakai Jilbab Di Sekolah-Sekolah.
Mendengar Berita ini Gadis ini Menangis Haru Gembira, Bahwa Mahkamah Agung Karlsruhe Membolehkan Wanita Muslim Mengenakan Jilbab Di Sekolah-Sekolah.
Hanya orang yang tahu betapa sukarnya untuk mempertahankan aurat dapat merasa manisnya apabila dapat mempertahankan aurat mereka.. Ini juga merupakan jihad.
Semoga Allah SWT memudahkan segala urusannya dan urusan seluruh muslimin dan muslimat, insan-insan yang baik di muka bumi.
Dan Ya Allah..
Kuatkanlah saudara-saudara kami di mana juga mereka berada.
Aamiin.

Sopir yang salat di bak truknya ini bikin haru netizen, salut! 'Share yaa'

kotabontang.net - Pekerjaan kerap kali menjadi alasan banyak orang meninggalkan kewajiban kepada Tuhannya. Namun apa yang diperlihatkan seorang sopir truk angkut ini nampaknya patut untuk ditiru. Meski pekerjaannya tidak duduk di ruang kantor yang ber-AC, pria ini tak berdalih untuk meninggalkan salat.
Andi Budi, yang melihat pemandangan tersebut mengabadikannya dan mengunggah di akun media sosialnya pada Selasa (16/2). Ia meyakini selama ada niat dan tekad yang kuat, selalu ada cara untuk tetap dekat dengan Yang Maha Kuasa. 
"Luar biasa Bapak ini, saya sangat salut," tutur Andi dikutip brilio.net dari akun media sosialnya, Jumat (19/2).
Foto yang diunggahnya langsung mendapat banyak pujian dari netizen. Kebanyakan dari mereka salut pada sosok pria tersebut karena memang tidak banyak yang seperti itu. 
"Sopo sing ngomong sopir ngaso mampire mendem madon, ora kabeh (siapa yang bilang sopir jika istirahat untuk mabuk dan main perempuan? Tidak semua seperti itu)," kata akun Rudi Pradana.
"Di saat kebanyakan supir mampir ke warung enggak jelas di pinggir jalan. Sopir ini beribadah di tempat dia mencari nafkah. Subhanallah," ujar akun Apriliana Sari sembari membagikan foto tersebut.
Salut buat Bapak! Semoga tetap dilapangkan rezekinya.
Brilio.net

Singkirkan TV Dari Rumah, Alhamdulillah Ibu Ini Sukses Didik 10 Anaknya Hafal Al-Qur'an 'Share yaa'

kotabontang.net - Siapa yang tak ingin memiliki anak yang hafal alquran? Tampaknya semua orangtua yang beragama Islam memiliki cita-cita tersebut. Namun hal tersebut memang tidak mudah, butuh kesabaran yang amat tinggi dan konsistensi untuk waktu yang lama. Namun itulah yang dilakukan Wirianingsih beserta suaminya Mutammimul Ula, mereka berdua mendidik dari kecil anak-anaknya untuk dekat dengan alquran.

Wanita kelahiran Jakarta, 11 September 1962 ini, selain sebagai ibu rumah tangga, juga seorang dosen. Dengan ketekunan dan kesabarannya, Wirianingsih diberikan kemudahan membuat 10 anaknya hafal alquran. Siapa saja ke 10 anak tersebut? Dikutip dari 10 Bersaudara Bintang alquran yang ditulis Izzatul Jannah dan Irfan Hidayatullah kesepuluh anak tersebut ialah:



Anak pertama, Afzalurahman Assalam yang hafal alquran pada usia 13 tahun. Faris Jihady Hanifah sebagai putra kedua yang hafal alquran pada usia 10 tahun. Adapun Maryam Qonitat anak ketiga hafal alquran sejak usia 16 tahun. Selanjutnya Scientia Afifah Taibah anak keempat yang hafal 29 juz sejak SMA. Sedangkan anak kelima ialah Ahmad Rasikh 'Ilmi yang hafal 15 juz alquran saat duduk di MA Husnul Khatimah, Kuningan.

Selanjutnya anak keenam, Ismail Ghulam Halim yang hafal 13 juz dan duduk di SMAIT Al-Kahfi Bogor. Anak ketujuh yaitu Yusuf Zaim Hakim ia hafal 9 juz alquran dan duduk di SMPIT Al-Kahfi, Bogor.

Kemudian Muhammad Syaihul Basyir, putra kedelapan, dulunya ia duduk di MTs Darul Quran, Bogor. Ia sudah hafal alquran 30 juz pada saat kelas 6 SD. Dua anak terakhir yaitu, Hadi Sabila Rosyad, dulunya ia bersekolah di SDIT Al-Hikmah, Mampang, Jakarta Selatan dan hafal 2 juz alquran dan Himmaty Muyassarah sebagai putri terakhir ia hafal 2 juz alquran pada saat duduk di SD.

foto: Wirianingsih (atas) beserta suaminya (bawah)

Wirianingsih
suaminya
Lalu apa sebenarnya metode yang Wirianingsih terapkan dalam mendidik anak-anaknya? Kuncinya adalah keseimbangan dan kesinambungan proses. Meski kedua orangtuanya sibuk, mereka telah menetapkan pola hubungan keluarga yang saling bertanggungjawab dan konsisten satu sama lain. Selepas maghrib jadwal mereka adalah berinteraksi dengan alquran dan tidak boleh ada agenda lain, kecuali benar-benar sesuatu yang tak bisa ditinggalkan.

Bahkan demi menjaga tradisi tersebut, Wirianingsih rela menyingkirkan televisi dari rumahnya dan tidak ada perkataan kotor di lingkungan keluarga serta masyarakat. "Hal yang cukup mendasar yang dimiliki keluarga ini sehingga mampu mendidik 10 bersaudara bintang alquran adalah visi dan konsep yang jelas," ujar Izzatul dalam bukunya.

Demi memenuhi keinginannya memiliki anak yang hafal alquran, Wirianingsih beserta suami sepakat jika usai subuh dan maghrib dijadikan waktu khusus untuk alquran yang tidak boleh dilanggar dalam keluarga ini. Sewaktu masih balita, Wirianingsih pun konsisten membaca alquran di dekat mereka, mengajarkannya, bahkan mendirikan TPQ di rumahnya.

"Ketiga, mengomunikasikan tujuan dan memberikan hadiah. Meskipun awalnya merasa terpaksa, namun saat sudah besar mereka memahami menghafal alquran sebagai hal yang sangat perlu, penting, bahkan kebutuhan. Komunikasi yang baik sangat mendukung hal ini. Dan saat anak-anak mampu menghafal alquran, mereka diberi hadiah. Barangkali semacam reward atas pencapaian mereka. Mengenai punishment tidak dijelaskan secara rinci," imbuh Izzatul dalam bukunya yang diterbitkan Sygma Publishing pada Januari 2010 itu.

Nah, setelah membaca kisah ini, kamu tertarik untuk mendidik anak seperti yang dilakukan Wirianingsih dan suaminya? Memang bukan hal mudah, namun itu jelas bukan hal mustahilkan?

Brilio.net
Monday, February 29, 2016

Sudah Rutin Shalat Dhuha Tapi Masih Seret Rezkinya , Silahkan Baca Beberapa Alasannya Disini

kotabontang.net - Anda mungkin sudah tahu bahwa salah satu amalan pembuka pintu rezeki adalah dengan merutinkan shalat dhuha. Shalat dhuha adalah shalat rezeki.

Bagi anda yang belum mempraktekkannya barangkali masih belum yakin kekuatan energi dari shalat dhuha. Namun bagi mereka yang sudah rutin mengamalkannya bisa berkata bahwa shalat dhuha memang memperlancar rezeki, menolak kemiskinan dan memudahkan urusan.

Bukan bermaksud riya atau ujub diri tapi saya berani menuliskannya di sini karena saya pun mengamalkannya sebagai salah satu ibadah rutin setiap hari kecuali jika saya dapat dispensasi karena kedatangan "tamu bulanan" atau sakit. Sebagai manusia biasa yang imannya naik turun kadang saya juga lupa melaksanakannya karena kesibukan dunia melenakan saya, tapi sedapat mungkin saya berusaha untuk mengerjakannya.

Meskipun tidak kaya, dalam artian harta berlimpah tapi alhmadulillah kami selalu cukup dan tak pernah merasa kekurangan. Urusan pun senantiasa dimudahkan dan rezeki datang dari mana saja bahkan dari arah yang tak disangka-sangka. Rahasia di balik shalat dhuha memang luar biasa.
Tapi banyak juga orang yang merutinkan dhuha tapi rezekinya tetap saja macet, apa ada yang salah?

Menarik rezeki tak cukup hanya dengan sekedar dhuha.

# 1. MULAI DENGAN NIAT YANG BENAR.
Rezeki adalah sebuah misteri besar yang siapapun tak dapat mengetahuinya. Yang patut digaris bawahi bahwa rezeki adalah hak prerogatif Allah, diberikan pada siapapun yang dikehendakiNya. Banyak amalan untuk memperlancar rezeki (baca : 55 cara membuka pintu rezeki). Tapi amalan itu harus dimulai dengan niat yang benar. Jangan melakukan amalan karena niatnya ingin rezeki. Berniatlah melakukannya karena Allah, rezeki yang datang selanjutnya adalah bonus. (baca : bolehkah niat beramal karena ingin dapat rezeki?)
Kesalahan pertama adalah niat yang sudah melenceng. Berniatlah selalu karena Allah dan untuk mendapatkan keridhaanNya.

# 2. LANJUT DENGAN PRASANGKA BAIK.
Setelah meluruskan niat, lanjutkan dengan berprasangka baik padaNya. Dengan berprasangka baik maka kita memiliki harapan bahwa Allah akan mempermudah urusan dan memperlancar rezeki kita hari ini. Bukankah Allah sesuai persangkaan hambaNya?
Setelah shalat subuh jangan tidur lagi / bermalas-malasan. Namun dengan semangat tinggi dan harapan baik untuk mengupayakan ikhtiar. Manakala matahari bergerak naik sepenggalan, segera ambil air wudhu dan sempatkan untuk shalat dhuha.
Mulailah ikhtiar / pekerjaan hari itu dengan prasangka (harapan) baik pada Allah bahwa rezeki akan dibukakanNya. Langkah menuju kesuksesan diawali dengan keadaan lahiriah dan batiniah yang bersih. Dengan demikian pikiran menjadi jernih dan dibukakan jalan / solusi memperoleh rezeki hari itu.

#3. SERTAI DENGAN TAUBAT
Terkait dengan dhuha Rasulullah SAW mengingatkan,
Shalat dhuha itu mendatangkan rezeki dan menolak kemiskinan dan tidak ada yang memelihara shalat kecuali hanya orang-orang yang bertaubat. (H.R. Tirmidzi)

Jadi shalat dhuha harus dilaksanakan secara istiqamah dan digandengkan dengan taubat. Mengapa taubat? Ibarat seseorang yang ingin melihat bayangan yang jelas pada cermin, maka dia harus membersihkan cermin itu dari segala macam kotoran dan debu. Begitu pula jika ingin merasakan pencerahan hati dan ide-ide cemerlang dalam meraih rezeki, perlulah membersihkan debu yang menempel pada hati. Caranya dengan bertaubat.

Karena itu untuk menjemput rezeki Allah lakukan taubat dan beristighfar (baca : keutamaan istighfar kaitannya dengan rezeki). Jika kita merasa melakukan banyak kesalahan (yang sudah pasti, karena kita manusia yang bisa khilaf) segeralah mohon ampun pada Allah. Kemudian kembali pada Allah, lakukan perintahNya dan jauhi yang dilarangNya. Lakukan dengan ikhlas hati tanpa merasa terpaksa. Istighfar harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, menghadirkan kesadaran yang tinggi dari lubuk hati yang terdalam. Merasa menyesali semua sikap buruk kepada Sang Pemilik Rezeki.

Karena itu istighfar belum dianggap memenuhi syarat jika hanya dilakukan secara lisan saja. Meskipun kita membaca istighfar sampai ribuan kali setiap harinya tidak ada artinya bagi Allah jika tidak disertai sikap dan tindakan.

Mula-mula taubat harus (1) dimulai dengan niat di dalam hati. Untuk menetapkan kesungguhan dan kemantapan hati, (2) perlu dilahirkan secara lisan. Kemudian (3) berjanji tidak mengulangi perbuatan buruk itu, menyesal sepenuhnya kemudian (4) memperbaiki perilaku. Lakukan setiap selesai shalat dhuha.

Orang yang enggan bersitighar (bertaubat) akan mengalami kesulitan dalam menjalani hidup termasuk menjemput rezeki Allah SWT. Walau pada kenyataannya kita melihat banyak pendosa yang rezekinya justru makin lancar, itu hanya cara memandang kita yang keliru (baca : ahli maksiat tapi kok rezekinya makin lancar?). Sesungguhnya rezeki yang tampaknya melimpah itu menyimpan kemudharatan-kemudharatan. Masuklah dalam kehidupan mereka tentu kita akan tahu meskipun kelihatan hartanya melimpah tapi jiwanya menderita. Tak sedikit orang kaya tapi terkena penyakit yang mematikan (tak kunjung sembuh), atau memiliki banyak masalah yang membuatnya tak nyenyak tidur.
Mereka inilah yang sejatinya menjauh dari Allah. Taubatlah obatnya, peluang untuk merebut rahmat Allah.

Jika Allah menerima taubat kita tentu Dia akan memberi rahmatNya (kasih sayangNya). Jika Allah mengasihi maka bukan hal yang sulit bagiNya mengabulkan keinginan kita.
Maka aku katakan kepada mereka, "Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai (Q.S.Nuh : 10-12).

KESIMPULAN
Apakah anda sudah memahami mengapa rezeki anda masih macet padahal merasa sudah mengamalkan amalan pembuka rezeki termasuk diantaranya shalat dhuha?
Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. Mulailah hari ini dengan meluruskan niat saat melakukan ibadah, murni karena Allah taala, kemudian jangan lupa berprasangka baik padaNya dan beristighfar atau bertaubatlah setiap hari.
Mudah-mudahan upaya kita diperhitungkan Allah, bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat nanti. Amin..
Wallahu alam.
Sunday, February 28, 2016

Tidak Cinta, Bukan Berarti Harus Cerai, Sebuah Renungan..

kotabontang.net - LELAKI itu benar-benar sudah mengambil keputusan. Ia akan menceraikan istrinya, sebab tidak ada cinta sama sekali untuk perempuan yang dinikahinya. Pernikahannya terjadi karena musibah, awalnya dirinya berencana menikah dengan kekasihnya. Namun, satu hari menjelang pernikahan tiba-tiba kekasihnya menghilang.
Tidak Cinta, Bukan Berarti Harus Cerai
Saat didatangi ke rumah, orang tuanya justru berkata, “Seharusnya anakku meninggalkanmu sejak dahulu, karena sejak awal kami tidak merestui hubungan kalian. Kami menyetujui kalian menikah karena terpaksa, tetapi akhirnya anakku sadar hidup denganmu yang hanya berpenghasilan kecil hanya akan membuatnya susah.”
Betapa terkejutnya lelaki itu saat mendengar paparan orang tua kekasihnya. Memang sebagai guru honorer gajinya sangat jauh dari kata cukup, namun dirinya yakin bisa bertanggungjawab memberi nafkah pada keluarga dengan cara mencari tambahan penghasilan dari pekerjaan lain.
Untuk menutupi rasa malu sekaligus menjaga martabat keluarga, lelaki itu dinikahkan dengan perempuan lain. Pernikahan terlaksana, namun seminggu setelah pernikahan kekasihnya muncul kembali di hadapannya.
“Maaf, Mas. Aku tidak datang dalam acara pernikahan kita, aku terhasut ucapan orang tuaku yang mengatakan hidupku akan susah apabila nekad menikah denganmu. Masa depan rumah tangga suram karena pendapatanmu belum seberapa, tetapi seminggu ini diriku merenung dan aku tak bisa melupakanmu. Itu sudah lebih dari cukup menjadi alasan mengapa diriku mesti berada di sisimu.”
“Tetapi diriku sudah menikah, dirimu juga tahu itu. Lagipula bagaimana dengan orang tuamu, meski dirimu mencintaiku namun bila mereka tidak merestui akan sama saja.”
“Ceraikan istrimu, Mas. Masalah orang tuaku, biarlah aku yang mengurusnya. Bila perlu akan kuancam kalau tidak disetujui menikah denganmu, aku akan kabur dari rumah.”
Perbincangan dengan kekasihnya itulah yang membuatnya semakin bertekad menceraikan istrinya. Lagipula untuk apa mempertahankan rumah tangga apabila tidak dilandasi dengan cinta. Lelaki itu sengaja mengunjungi ibu dan ayahnya tanpa membawa istri, dengan tujuan membicarakan niatnya menceraikan perempuan yang baru seminggu dinikahinya.
“Apa? Dirimu mau menceraikan istrimu? Atas dasar apa mau menceraikannya?”
“Aku tidak mencintainya, Bu. Bukankah salah satu alasan diperbolehkan menceraikan istri karena tidak ada kecocokan antara suami-istri, sehingga tidak ada cinta di antara keduanya? Aku merasa tidak cocok dengan istriku, karena tidak mencintainya.”
“Ibu rasa itu bukan alasan utama, katakan saja apa ada alasan lain.”
“Kekasihku datang menemuiku, dia bersedia menikah denganku karena itu dirinya memintaku menceraikan istriku.”
“Begitu rupanya, lalu apa lagi yang dikatakannya?”
“Dia terhasut ucapan orang tuanya yang mengatakan hidupnya akan susah apabila nekad menikah denganku, karena itu dia kabur menjelang pernikahan. Tetapi ternyata dia tidak bisa melupakanku, kemudian kembali. Bahkan dia menggaransi akan kabur dari rumah apabila niatnya menikah denganku dihalangi kedua orang tuanya, itu karena rasa cinta begitu besar kepadaku.”
Ibunya menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian terdengar beristighfar berkali-kali.
“Putraku, memang benar salah satu alasan diperbolehkan menceraikan istri karena tidak ada kecocokan antara suami-istri sehingga tidak ada cinta di antara ke duanya. Masalahnya apakah istrimu tidak mencintaimu? Ketika sudah menikah ada kesalingan, jangan-jangan hanya dirimu yang tidak memiliki cinta kepada istrimu.”
“Bagaimana mungkin istriku mencintaiku, sedangkan kami menikah karena dijodohkan.”
“Istrimu mencintaimu, maka dirinya mau menikah denganmu. Selama ini ibu tahu kalau dia menyukaimu, sebab orang tuanya pernah mendengar saat sholat malam sebelum menjadi istrimu, dia berdoa agar bisa menerima kenyataan kalau dirimu akan menikah meski dia selalu menyebutmu setiap malam dalam doanya semoga berjodoh denganmu. Ketahuilah, bisa jadi dirimu tidak berjodoh dengan orang yang dirimu cintai, sebab orang itu tidak pernah berdoa dengan tekun agar berjodoh denganmu.”
Lelaki itu terdiam. Benar juga, bagaimana kalau ternyata perempuan yang dinikahinya mencintai dirinya? Tetapi bukankah cinta sepihak saja tidak cukup kuat untuk sebuah ikatan rumah tangga?
“Putraku, penting untuk dirimu ketahui. Syarat menceraikan istri bukan semata cinta atau tak cinta. Syarat yang mesti dipenuhi antara lain, istri berakhlak jelek, istri tidak taat lagi kepada suaminya dalam hal-hal yang baik, istri tidak mampu melakukan kewajibannya, istri melakukan kemaksiatan atau dosa besar yang menyebabkan rumah tangga mengalami keadaan yang jelek. Apakah syarat-syarat itu terpenuhi?”
Lelaki itu tak mampu menjawab pertanyaan ibunya. Barulah saat ibunya mengulang pertanyaan agar menjawab, lelaki itu pun menjawab.
“Tidak terpenuhi, Bu. Istriku berakhlak baik, meski aku tidak belum mau menemaninya tidur dia tetap memuliakanku sebagai suami. Saat diriku marah karena dengan berbagai alasan, dirinya tetap sabar.”
“Dengan demikian, gugurlah alasanmu yang berniat menceraikannya. Hal lain yang mesti dirimu pahami, kalau disuruh memilih antara ayah atau ibu dirimu pilih siapa?”
“Tentu saja pilih keduanya, Bu. Ibu dan ayah itu orang tuaku, tidak dapat terpisahkan satu sama lain.”
“Kalau begitu mengapa dirimu mau memilih seseorang yang telah meninggalkanmu daripada seseorang yang sudah Allah takdirkan menyatu denganmu dalam ikatan pernikahan?”
Tak ada kata terucap. Justru saat mendengar apa yang disampaikan ibunya, lelaki itu tertunduk.

“Kalau orang tua tidak mengakui anaknya kira-kira bagaimana perasaan sang anak? Pasti menyakitkan, tadi dirimu katakan apabila orang tua kekasihmu tetap tidak merestui hubungan kalian, dia akan kabur dari rumah. Itu sama saja tidak mengakui kedua orang tuanya sendiri. Apakah perempuan seperti itu baik untuk dijadikan istri?”
Lelaki itu kian menundukkan kepala. Tak berani sedikitpun menatap mata ibunya karena khawatir akan ketahuan apabila saat ini air matanya mulai menetes.
“Di luar sana, banyak laki-laki dan perempuan yang dibutakan cinta. Rela tidak mengakui orang tuanya hanya demi nafsu mempersatukan birahi atas nama cinta, padahal orang tua tidak merestui pasti disebabkan alasan yang logis. Orang tua kekasihmu tidak merestui hubungan kalian sebab melihat anak perempuannya sudah terbiasa hidup mewah, jadi tak tega kalau seandainya menikah denganmu yang hanya berprofesi sebagai guru honorer dengan penghasilan pas-pasan. Khawatir hidup anaknya menderita. Apakah pemikiran orang tuanya salah?”
Dengan menguatkan hati, lelaki itu mencoba menegakkan kepala dan melihat ke arah ibunya.
“Jadi, apa yang harus kulakukan, Bu? Aku tidak mencintai istriku, bagaimana mungkin membangun rumah tangga tanpa cinta?”
“Jangan katakan tidak, tetapi katakan belum. Jujur saja, dari awal ibu dan ayah melarangmu pacaran. Khawatir saat tidak berjodoh dirimu akan menjadi pesakitan cinta yang sukar disembuhkan. Kekhawatiran kami terbukti, kini belajarlah menerima kenyataan bahwa apa yang terbaik menurutmu belum tentu yang terbaik menurut kehendak Allah. Belajarlah mencintai istrimu lebih tekun, sebab sebelum menikah denganmu istrimu belajar dengan tekun mencintaimu lewat doa-doanya agar berjodoh denganmu, Allah mengabulkan doanya. Kini saatnya dirimu berdoa dan bekerja untuk mencintai istrimu hanya karena Allah.” [AS/sebarkanlah.org].

Arief Siddiq Razaan, Kafe Pustaka-03 Desember 2015

Solusi saat Istri tidak mau dipoligami


kotabontang.net - Solusi saat Istri tidak mau di poligami

Assalamualaikun Wr.Wb.
Saya telah menikah dan dikaruniai 2 orang putri. Belakangan saya menikah kembali secara Siri (agama), pernikahan ini telah diketahui istri pertama saya. Awalnya dia setuju, tetapi selang 1 minggu istri pertama saya meminta cerai, tetapi saya tidak ingin bercerai.
Pertanyaan saya, apakah jika istri saya mengajukan perceraian dimana saya tidak ingin menceraikannya, istri dapat pergi begitu saja kerumah orang tuanya? Atau mengajukan gugatan perceraian ke Pengadilan Agama, apakah Pengadilan Agama dapat mengabulkan gugatannya?
Mohon Saran dan nasehat apa yang mesti saya lakukan, saya tidak ingin ada perceraian.
Terima Kasih
Wasalam Wr. Wb.
Ariswa***@gmail.com



Jawaban:
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Semoga rahmat dan inayah Allah subhanahuwata'ala senantiasa tercurah selalu bagi kita semua. Amin
Berkenaan dengan permasalahan anda, kami sebelumnya belum mengetahui apa motif bapak untuk menikah lagi (poligami). Meskipun syariat telah membenarkan bagi kaum pria untuk menikah lagi, tentu ada ketentuan-ketentuan yang patut dipatuhi dan dijalani. Bukan hanya karena mendapatkan kemudahan untuk menikah, namun akhirnya hak dan kewajiban yang semakin besar dan berat dikesampingkan begitu saja.

Namun kami yakin, semoga niat dan tujuan anda dalam berpoligami, bukan hanya tuntutan ego ataupun nafsu semata, namun selain itu juga dibarengi dengan niatan untuk membina rumah tangga yang sakinah (tenang dan tentram) mawadah (penuh cinta dan kasih sayang) wa rahmah (dan penuh rahmat dan ridho Allah subhanahuwata'ala).

Sebagai seorang suami, anda harus mengetahui alasan dan sebab yang terjadi dari penolakan sepihak dari istri pertama anda, jikalah karena kecemburuan, maka kami katakan itu adalah wajar, sebab naluri sebagai seorang wanita memang diciptakan demikian, maka jika memang karena hal tersebut, anda harus bisa meyakinkan kepada istri pertama anda dalam pembagian hak dan kewajibannya. yang termasuk pembagian disini meliputi, pembagian jatah menginap (mabit) nafkah lahir (berupa kebutuhan primer), begitu juga dalam pembagian nafkah batin. sedangkan pembagian rasa cinta, maka hal yang demikian dimaklumi dalam syariat.

Dan seorang istri, memang tidak mendapatkan hak talak (cerai), sebab kalimat talak hanya dimiliki seorang suami. akan tetapi seorang istri punya hak menggugat cerai, dalam istrilah fiqihnya khuluk. dan hal tersebut telah disahkan dalam syariat dengan berbagai alasan dan sebabnya.

Silahkan baca artikel kami tentang perkara-perkara yang dibolehkan bagi seorang istri untuk meminta cerai:

Salah satu sebab yang dibolehkannya seorang istri untuk meminta cerai adalah, karena terdholimi oleh suami, terdholimi disini bisa karena tidak diberi nafkah, diacuhkan, tidak diperhatikan lagi, dihilangkan hak-haknya sebagai seorang istri dll. Dan jika ini adalah alasan penolakan dari istri anda, maka saran kami segeralah anda berlindung dan bertaubat kepada Allah subhanahuwata'ala. sebab Rasulullah Shallallahu'laihi wasallam telah mengabarkan kepada kita tentang keberadaan orang yang tidak adil kepada istri-istrinya, kelak diakhirat dia akan mendapatkan bahwa sebagian tubuhnya akan miring.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda,
مَنْ كَانَ لَهُ امْرَأَتَانِ فَمَالَ إِلَى إِحْدَاهُمَا جَاءَ يَوْمَ القِيَامَةِ وَشِقُّهُ مَائِلٌ
“Siapa saja orangnya yang memiliki dua istri lalu lebih cenderung kepada salah satunya, pada hari kiamat kelak ia akan datang dalam keadaan sebagian tubuhnya miring.”

Takhrij Hadits Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2133), an-Nasa’i (2/157), Tirmidzi (1/213), ad-Darimi (2/143), Ibnu Majah (1969), Ibnu Abi Syaibah (2/66/7), Ibnul Jarud (no. 722), Ibnu Hibban (no. 1307), al-Hakim (2/186), al-Baihaqi (7/297), ath-Thayalisi (no. 2454), dan Ahmad (2/347, 471) melalui jalur Hammam bin Yahya, dari Qatadah, dari an-Nadhr bin Anas, dari Basyir bin Nuhaik, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma.

Di dalam Sunan at-Tirmidzi, hadits di atas diriwayatkan dengan lafadz,
إِذَا كَانَ عِنْدَ الرَّجُلِ امْرَأَتَانِ فَلَمْ يَعْدِلْ بَيْنَهُمَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَشِقُّهُ سَاقِطٌ
“Apabila seorang laki-laki memiliki dua istri namun tidak berlaku adil di antara keduanya, pada hari kiamat kelak ia akan datang dalam keadaan sebagian tubuhnya miring.”

Asy-Syaikh al-Albani mengatakan, “Al-Hakim menghukumi hadits ini sahih berdasarkan syarat asy-Syaikhain (al-Bukhari & Muslim). Adz-Dzahabi dan Ibnu Daqiqil ‘Ied sepakat dengan al-Hakim, sebagaimana dinukilkan oleh al-Hafizh dalam at-Talkhis (3/201) dan beliau pun menyepakatinya.

Sampai disini anda bisa menyimpulkan sendiri. Jikalah alasan dari istri anda hanya karena cemburu semata, maka dia tidak berhak untuk mengajukan cerai, dan pastinya Pengadilan Agama juga tidak bisa mengabulkan gugatannya, kecuali jika istri anda mendapatkan beberapa alasan dan sebab dari dibolehkannya dia menggugat cerai anda.

Dijawab oleh: Ust Abu Syauqie Al Mujaddid (Dewan Pembina Solusi Islam)
Artikel: www.solusiislam.com

Inilah sebab dan alasan wanita dibolehkan minta cerai

kotabontang.net - Sebab dan alasan wanita dibolehkan minta cerai

Sesungguhnya tujuan utama dalam pernikahan adalah terbentuknya keluarga yang sakinah, mawadah dan rahmah seperti yang telah diterangkan Allah dalam al Quran Surat Ar Rum 21. Akan tetapi dalam beberapa kondisi dan keadaan, Islam juga telah memberikan solusi dan jalan bagi mereka yang tidak mampu menemukan kebahagiaan dalam berumah tangga dengan cara yang dihalal meskipun hal tersebut dibenci, yaitu cerai. Dalam istilah fiqihnya talak (khusus untuk pihak suami) dan khuluk (bagi sang istri)


Para ulama telah menyebutkan perkara-perkara yang membolehkan seorang wanita meminta khulu' (pisah) dari suaminya.

Diantara perkara-perkara yang membolehkan sang istri untuk menggugat cerai tersebut adalah :

1. Apabila suami dengan sengaja dan jelas dalam perbuatan dan tingkah lakunya telah membenci istrinya, namun suami tersebut sengaja tidak mau menceraikan istrinya.

2. Perangai atau sikap seorang suami yang suka mendholimi istrinya, contohnya suami suka menghina istrinya, suka menganiaya, mencaci maki dengan perkataan yang kotor.

3. Seorang suami yang tidak menjalankan kewajiban agamanya, seperti contoh seorang suami yang gemar berbuat dosa, suka minum bir (khomr), suka berjudi, suka berzina (selingkuh), suka meninggalkan shalat, dan seterusnya

4. Seorang suami yang tidak melaksanakan hak ataupun kewajibannya terhadap sang istri. Seperti contoh sang suami tidak mau memberikan nafkah kepada istrinya, tidak mau membelikan kebutuhan (primer) istrinya seperti pakaian, makan dll padahal sang suami mampu untuk membelikannya.

5. Seorang suami yang tidak mampu menggauli istrinya dengan baik, seperti seorang suami yang cacat, tidak mampu memberikan nafkah batin (jimak), atau jika dia seorang yang berpoligami dia tidak adil terhadap istri-istrinya dalam mabit (jatah menginap), atau tidak mau, jarang, enggan untuk memenuhi hasrat seorang istri karena lebih suka kepada yang lainnya.

6. Hilangnya kabar tentang keberadaan sang sang suami, apakah sang suami sudah meninggal atau masih hidup, dan terputusnya kabar tersebut sudah berjalan selama beberapa tahun. Dalam salah satu riwayat dari Umar Radhiyallahu’anhu, kurang lebih 4 tahun.

ما روي عن عمر رضي الله عنه ، أنه جاءته امرأة فقد زوجها ، فقال: تربصي أربع سنين ، ففعلت ، ثم أتته فقال : تربصي أربعة أشهر وعشراً ، ففعلت ، ثم أتته فقال : أين ولي هذا الرجل؟ فجاؤوا به ، فقال: طلقها ، ففعل ، فقال عمر: تزوجي من شئت . رواه الأثرم والجوزجاني والدارقطني

Diriwayatkan dari Umar Ra bahwasanya telah datang seorang wanita kepadanya yang kehilangan kabar tentang keberadaan suaminya. Lantas Umar berkata: tunggulah selama empat tahun, dan wanita tersebut melakukannya. Kemudian datang lagi (setelah empat tahun). Umar berkata: tunggulah (masa idah) selama empat bulan sepuluh hari. Kemudian wanita tersebut melakukannya. Dan saat datang kembali, Umar berkata: siapakah wali dari lelaki (suami) perempuan ini? kemudian mereka mendatangkan wali tersebut dan Umar berkata: “ceraikanlah dia”, lalu diceraikannya. Lantas Umar berkata kepada wanita tersebut: “Menikahlah (lagi) dengan laki-laki yang kamu kehendaki”.

7. Jika sang istri membenci suaminya bukan karena akhlak yang buruk, dan juga bukan karena agama suami yang buruk. Akan tetapi sang istri tidak bisa mencintai sang suami karena kekurangan pada jasadnya, seperti cacat, atau suami yang buruk rupa. Dan sang wanita khawatir tidak bisa menjalankan kewajibannya sebagai istri sehingga tidak bisa menunaikan hak-hak suaminya dengan baik.

"Bahwasanya istri Tsaabit bin Qois mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata, "Wahai Rasulullah, suamiku Tsaabit bin Qois tidaklah aku mencela akhlaknya dan tidak pula agamanya, akan tetapi aku takut berbuat kekufuran dalam Islam". Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, "Apakah engkau (bersedia) mengembalikan kebunnya (yang ia berikan sebagai maharmu-pen)?". Maka ia berkata, "Iya". Rasulullah pun berkata kepada Tsaabit, "Terimalah kembali kebun tersebut dan ceraikanlah ia !" (HR Al-Bukhari no 5373)

Oleh Ust. Abu Syauqie Al Mujaddid. (Dewan Pembina www.solusiislam.com)

Referensi:
1. Roudhotut Toolibiin 7/374,
2. Fatwa Syaikh Ibn Jibrin rahimahullah di http://islamqa.info/ar/ref/1859)
3. http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=37112

Apakah dosa Zina diampuni?

kotabontang.net - Apakah dosa Zina diampuni?

Assalamu’alaikum ustadz, saya ingin bertanya:

1. Apakah dosa berzina itu diampuni?
2. Apakah dengan pembersihan diri ke jalan yang benar dan bertaubat dengan sungguh2 (amal sholeh, dhuha, tahajud, lima waktu dan bahkan iktikaf) dengan tujuan memohon ampun akan diterima?

Karena demi Allah saya benar-benar menyesali semuanya dikarenakan kelalaian akibat kurangnya ilmu agama waktu kecil dan saya takut semua pertaubatan itu tidak diterima. jadi kalo saya tahajud sering menangis karena ketakutan saya akan MURKA-NYA dan juga akan AZAB-NYA kelak..
Matur nuwun, sekali lagi terima kasih buat tambahan ilmunya. Wassalam

Yud*****@yahoo.com



Jawaban

Wasslamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh



Saudaraku yang dirahmati Allah Subhanahuwata’ala.
Ketahuilah bahwa perbuatan zina termasuk dosa yang dapat diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, berdasarkan firman-Nya dalam Surat An-Nisaa’, ayat ke-48 dan ke-116:

إِنَّ اللهَ لاَيَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَادُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَآءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya…”

Ayat diatas menerangkan bahwa dosa-dosa apapun yang telah diperbuat entah itu dosa kecil atau dosa besar selama hal itu tidak menyekutukan-Nya, maka jika sang pelaku tersebut bertaubat dengan taubatan nasuha, niscaya akan diampuni oleh Allah Subhanahuwata’ala.

Selanjutnya jika orang yang telah terjerumus ke dalam perbuatan tercela ini jika dia bertaubat dengan taubatan nasuha, taubat yang benar yang diiringi dengan perbaikan diri dengan beramal shalih dengan berbagai macamnya, menyesalinya dan tidak ingin kembali melakukannya maka taubatnya ini akan dapat menghapuskan dosa atas idzin Allah. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW:
“التائب من الذنب كمن لا ذنب له”.
“Orang yang bertaubat dari perbuatan dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa”. (HR. Ibnu Majah)

Allah Subhanahuwata’al juga berfirman dalam ayat lain:

“إلا من تاب وءامن وعمل عملا صالحا فأولئك يبدل الله سيئاتهم حسنات وكان الله غفورا رحيما. ومن تاب وعمل صالحا فإنه يتوب إلى الله متابا”.

“Kecuali orang-orang yang bertaubat dan beriman dan mengerjakan amal shalih; maka mereka itulah yang kejahatannya diganti Allah dengan kabaikan, dan Allah maha Pengampun lagi maha Penyayang. Dan barang siapa bertaubat dan beramal shalih maka seseungguhnya dia telah bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya “. (QS. Al-Furqan: 70-71)

Terakhir ketika dia sudah bertaubat dengan taubat yang sebenar-benarnya (taubatan Nasuha), maka dia juga harus menutupi dan jangan mengumbar atau berbangga diri dengan perbuatan hina tersebut. Cukuplah dia tutupi aibnya ini dan Allah akan menutupi aibnya tersebut.

Semoga Allah subhanahuwata’ala senantiasa menunjukkan kita kepada jalan yang diridhoi-Nya.

Dijawab oleh: Tim Solusi Islam
Artikel: www.solusiislam.com